Minggu, 21 Februari 2016

Alkitab



PENGERTIAN ALKITAB
Alkitab adalah sebutan untuk kitab suci umat Kristiani. Alkitab itu meskipun umumnya dicetak sebagai satu jilid buku, sebenarnya merupakan kumpulan dari 66 kitab yang secara resmi diakui oleh umat Kristen sebagai kitab yang diilhami oleh Tuhan Allah. Kadang-kadang dipakai sebutan Injil untuk kitab suci orang Kristen, tetapi ini tidak benar, karena yang disebut sebagai kitab-kitab Injil itu hanyalah empat dari 66 kitab termaksud, yaitu empat kitab pertama dalam bagian Perjanjian Baru. Kata "Alkitab" berasal dari bahasa Arab, Al dan Kitab , yang secara harfiah berarti "kitab itu" atau "buku itu", di mana kata Al merupakan kata sandang khas dalam bahasa Arab. Dalam Kitab Suci agama Kristen sendiri, istilah Alkitab (yang berasal dari istilah Arab) tidak dipakai, karena Kitab Suci agama Kristen diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari bahasa aslinya, yaitu bahasa Ibrani, Aram dan Yunani. Oleh orang Kristen di Indonesia, istilah "Alkitab" dipakai sebagai sebutan untuk Kitab Suci (dalam makna serupa dengan kata Bible dalam bahasa Inggris), yaitu kumpulan Kitab Suci gabungan dari Kitab Suci agama Yahudi (Alkitab Ibrani/Perjanjian Lama/Old Testament) dan kitab-kitab yang ditulis oleh orang-orang Kristen mula-mula (Perjanjian Baru/New Testament). Alkitab sendiri sebenarnya dapat juga merujuk kepada Kitab Suci agama Islam, Al Qur'an. Istilah Alkitab berasal dari kata "al-Kitab" (bahasa Arab: الكتاب) yang secara sederhana berarti "buku" atau "kitab". Di negeri-negeri berbahasa Arab sendiri "Alkitab" disebut sebagai "al-Kitab al-Muqaddas" (bahasa Arab: الكتاب المقدس - "Kitab Suci"). Penulisan dalam bahasa Indonesia selalu menuliskan kata ini dengan menggunakan huruf kapital "A", sebagaimana dilakukan juga untuk kitab-kitab suci agama-agama yang lain. Nama "Alkitab" sendiri tidak muncul di dalam Alkitab, karena sebenarnya merupakan istilah bahasa Arab, sedangkan seluruh kitab-kitab dalam Alkitab aslinya ditulis dalam bahasa-bahasa Ibrani, Aram dan Yunani. Dalam bahasa Indonesia, untuk membedakan dengan Al-Qur'an, maka umat Muslim kadang menyebut Alkitab  Kristen dengan istilah Bibel atau Injil.
Istilah "Bibel" pertama kali digunakan oleh Filo (20 SM–50 M) dan Yosefus, yang menyebut Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama) sebagai bibloi hiërai. Hieronimus, seorang Bapak Gereja yang disuruh oleh Paus Damasus untuk merevisi Alkitab Latin, berkali-kali menyebut Alkitab dengan nama "Biblia" yang merupakan kata dari bahasa Latin yang berarti "buku" atau "kitab". Alkitab dalam bahasa Inggris disebut the Bible (atau Holy Bible - "Kitab Suci"). Istilah "Injil" berasal dari bahasa Arab إنجيل ʾInǧīl, yang diturunkan dari bahasa Yunani ευαγγέλιον (euangelion) yang berarti "Kabar Baik" atau "Berita Kesukaan", yang merujuk pada 1 Peter 1:25 (BIS, TL, dan Yunani). Injil dalam bahasa Inggris disebut Gospel, dari bahasa Inggris kuno gōd-spell yang berarti "kabar baik", yang merupakan terjemahan kata-per-kata dari bahasa Yunani (eu- "baik", -angelion "kabar"). Kata gōd-spell juga bisa diartikan juga sebagai "Mantra Tuhan".
PEMBAGIAN ALKITAB
Alkitab terdiri atas dua bagian utama, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Bagian-bagian utama ini disebut "Perjanjian" karena Allah bangsa Israel membuat perjanjian kepada manusia. Di dalam Perjanjian Lama perjanjian itu dibuat dengan Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, Musa dengan bangsa Israel dan Daud. Bagian Perjanjian Lama (Old Testament) sendiri sebenarnya merupakan Kitab Suci agama Yahudi, yang memuat cerita tentang nabi-nabi agama Yahudi. Di dalam Perjanjian Baru, yang ditulis oleh orang-orang Kristen yang pertama, perjanjian itu diperbarui lagi antara Allah dengan seluruh umat manusia melalui Yesus Kristus.
            Sebagai Kitab Suci agama Yahudi, hampir semua buku dalam Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani, kecuali beberapa bagian yang ditulis dalam bahasa Aram contohnya kitab Daniel. Sedangkan semua buku Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani dengan sejumlah kata-kata bahasa Aram (bahasa daerah di Israel pada waktu itu) dan bahasa Latin (bahasa pemerintah Romawi yang berkuasa pada masa itu), walaupun Yesus Kristus sendiri yang berbangsa Yahudi diyakini sehari-harinya berbicara dalam bahasa Aram. Berdasarkan isinya dan gaya penulisan, Perjanjian Lama dapat dikelompokkan menjadi 5 bagian utama yaitu:
  1. Kitab Taurat/Penatuk (5 kitab, yaitu: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan)
  2. Kitab Sejarah (12 kitab, yaitu: Yosua, Hakim-hakim, Rut, 1 Samuel, 2 Samuel, 1Raja-Raja, 2Raja-Raja, 1Tawarikh, 2Tawarikh, Ezra, Nehemia, Ester.)
  3. Kitab Puisi(pujian/ucapan syukur) (5 kitab, yaitu: Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung)
  4. Kitab Nabi-nabi Besar (5 kitab, yaitu: Yesaya, Yeremia, Ratapan, Yezkiel, Daniel) dan
  5. Kitab Nabi-nabi Kecil (12 kitab, Yaitu: Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Meleakhi).
Pentatuk/Taurat (kelima kitab Musa) - 5 kitab
  1. Kejadian - Penciptaan, Kejatuhan, Banjir besar, penyebaran bangsa-bangsa, Abraham, Ishak, Yakub, dan Yusuf. Perbudakan di Mesir.
  2. Keluaran - Perbudakan, Musa, 10 tulah, Paskah, Meninggalkan Mesir, Penyeberangan Laut Merah, Gunung Sinai dan kesepuluh Perintah Allah.
  3. Imamat - Perintah-perintah mengenai sistem korban dan keimaman. Perintah-perintah mengenai kesucian moral.
  4. Bilangan - Masih di Gunung Sinai, rakyat Israel membuat patung untuk disembah, penghukuman, 40 tahun pengembaraan di padang gurun dimulai.
  5. Ulangan - Penjelasan Musa mengenai tindakan Allah atas bangsa Israel, Kesepuluh Firman (Perintah Allah), hukum-hukum mengenai tata cara ibadah, hukum sosial dan sipil, and pembaharuan perjanjian.
Kitab-kitab Sejarah - 12 kitab seluruhnya
  1. Yosua - Paruh pertama kitab Yosua berbicara tentang 7 tahun penaklukan Tanah Perjanjian. Paruh kedua mengenai pembagian Tanah tersebut kepada bangsa Israel.
  2. Hakim-hakim - Masa Hakim-hakim. Banyak yang jahat. Bangsa Israel tidak mengusir semua penduduk Kanaan dan mulai mengambil bagian dalam penyembahan berhala. 7 putaran penindasan bangsa asing, penyesalan, dan pembebasan. Namun akhirnya, bangsa Israel gagal memetik pelajaran dari kejadian-kejadian tersebut.
  3. Rut - Boas mendapat hak menebus Rut, menebus Rut si orang Moab. Berbicara mengenai kebajikan, kasih, dan kesetiaan kepada Tuhan.
Ke 6 kitab berikut berbicara mengenai masa antara Samuel hingga Pembuangan:
  1. Satu Samuel - Samuel membawa bangsa Israel dari masa hakim-hakim ke Raja Saul
  2. Dua Samuel - Daud menjadi raja, berzinah, dan membunuh.
  3. Satu Raja-Raja - Salomo, kerajaan Israel menjadi kuat. Solomo mati dalam tahun 931 S.M., lalu perpecahan suku-suku: 10 ke utara dan 2 ke selatan.
  4. Dua Raja-Raja - Kerajaan yang terpecah. Ke 19 raja-raja Israel adalah raja yang jahat; karenanya, ditawan di Assiria (722 S.M.). Di Yudea, 8 dari ke 19 raja adalah raja yang jahat namun ikut dibuang juga.
  5. Satu Tawarikh - Menceritakan kembali sejarah bangsa Israel hingga meninggalnya Daud.
  6. Dua Tawarikh - Menceritakan riwayat Salomo, pembangunan Bait Allah. Sejarah Yehuda.
Tiga kitab berikutnya bertutur tentang restorasi Israel.:
  1. Ezra - Raja Koresy mengijinkan sebagian besar bangsa Israel kembali ke tanah Israel. Zerubabel memimpin mereka (539 S.M.). Ezra kembali belakangan bersama lebih banyak orang Yahudi (458 S.M.) Membangun Bait Allah.
  2. Nehemia - Membangun tembok Yerusalem. Nehemia mendapat ijin dari raja Persia untuk membangun kembali tembok-tembok tersebut (444 S.M.). Kebangunan di Israel.
  3. Ester - Menceritakan kejadian yang terjadi pada masa antara pasal 6 dan 7 dari kitab Ezra. Mordekai. Rencana untuk membunuh bangsa Israel.
Kitab Puisi(pujian/ucapan syukur) - 5 kitab
  1. Ayub - Orang benar yang diuji oleh Allah. Berhadapan dengan kekuasaan Allah.
  2. Mazmur - Terdiri dari 5 bagian. Puji-pujian dalam bentuk lagu. Mencakup tema yang luas
  3. Amsal - Kebijakan praktis untuk masalah sehari-hari.
  4. Pengkotbah - Semuanya sia-sia. Kebijakan manusia adalah sia-sia.
  5. Kidung Agung - Nyanyian antara Salomo dan pengantin Shulammite-nya, menceritakan kasih antara seorang pria dan seorang wanita.
Kitab Nubuat - 17 kitab terbagi menjadi dua, yaitu:
Kitab Nabi-nabi besar - 5 kitab
  1. Yesaya - Melihat dosa Yehuda dan mengumumkan penghukuman Allah. Hizkia. Pemulihan dan berkat-berkat pada masa yang akan datang.
  2. Yeremia - Dipanggil Allah untuk mengumumkan berita penghakiman atas Yehuda, yang kemudian terjadi. Allah menetapkan Perjanjian Baru.
  3. Ratapan - 5 puisi ratapan. Mengisahkan kekalahan dan kejatuhan Yerusalem.
  4. Yehezkiel - Ia melayani kaum Israel dalam pembuangan di Babilonia. Mengisahkan akhir zaman.
  5. Daniel - Banyak penglihatan atas kejadian di masa depan yang terjadi baik terhadap kaum kafir maupun Israel.
Kitab Nabi-nabi kecil - 12 kitab
  1. Hosea - Kisah Hosea dan istrinya yang tidak setia, Gomer. Merepresentasikan kasih dan kesetiaan Allah atas perzinahan spiritual bangsa Israel. Israel akan dihukum dan dipulihkan.
  2. Yoel - Mengumumkan masa depan yang mengerikan dengan menggunakan perumpamaan belalang. Penghukuman akan terjadi tetapi berkat-berkat akan menyusul.
  3. Amos - Mengingatkan Israel akan penghakiman yang akan terjadi. Israel menolak peringatan Allah.
  4. Obaja - Pengumuman melawan Edom, negara tetangga Israel yang bergembira atas penghakiman atas Yerusalem. Nubuatan mengenai kehancuran mereka.
  5. Yunus - Yunus mengumumkan penghakiman yang akan datang terhadap Niniweh. Tetapi mereka bertobat dan penghakiman dibatalkan.
  6. Mikha - Deskripsi lengkap mengenai kebusukan moral di semua tingkatan masyarakat Israel. Allah akan menghakimi tetapi juga akan mengampuni dan memulihkan.
  7. Nahum - Niniweh telah murtad (sekitar 125 tahun sesudah Yunus) dan akan dihancurkan.
  8. Habakuk - Menjelang akhir kerajaan Yehuda, Habakuk bertanya kepada Allah mengapa Ia tidak bertindak atas dosa-dosa Yehuda. Allah menjawab Ia akan memakai tangan bangsa Babilonia. Habakuk bertanya bagaimana mungkin Allah memanfaatkan tangan suatu bangsa yang lebih busuk dari Yehuda.
  9. Zefanya - Temanya adalah seputar Hari Tuhan dan penghakimanNya serta berkat-berkat yang akan terjadi sesudahnya. Yudea tidak akan bertobat, kecuali beberapa gelintir sisanya, dan mereka akan dipulihkan.
  10. Hagai - Bangsa Israel gagal mengutamakan Allah, dengan membangun terlebih dahulu rumah mereka sendiri ketimbang Bait Allah. Karenanya, mereka tidak akan maju-maju.
  11. Zakharia - Zakharia memberi semangat kepada bangsa Yahudi untuk menyelesaikan pembangunan Bait Allah. Banyak nubuatan Mesianik.
  12. Maleakhi - Umat Allah tidak disiplin dalam menjalankan kewajiban mereka terhadap Allah. Semakin jauh dari Allah. Kompromistis dalam hal moral. Pengumuman akan penghakiman yang akan terjadi.
Sementara pengelompokan untuk Perjanjian Baru adalah
  1. Kitab Injil (4 kitab, yaitu: Matius, Markus, Lukas, Yohannes)
  2. Kitab Sejarah (1 kitab,yaitu: kisah Para Rasul)
  3. Surat-surat Paulus(11 kitab yang ditulis oleh paulus, yaitu: Roma, 1-2Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1-2Teslonika, 1-2Timotius, Titus, Filemon dan Ibrani)
  4. Surat-surat Umum/Surat non-paulus(7 kitab, yaitu;Yakobos, 1-2Petrus, 1-3Yohannes, dan Yudas.
  5. Kitab Wahyu (1 kitab, yaitu; Wahyu).
Kitab Injil:
1.      Matius - Mempresentasikan Yesus sebagai Mesias. Silsilah Yesus dari garis keturunan Yusuf. Penggenapan nubuat-nubuat Perjanjian Lama.
2.      Markus - Mempresentasikan Yesus sebagai Hamba. 1/3 dari injilnya berbicara mengenai minggu terakhir hidupNya.
3.      Luke - Mempresentasikan Yesus sebagai Anak Manusia yang datang untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang terhilang. Silsilah Yesus dari garis keturunan Maria. Merupakan kitab terpanjang.
4.      Yohanes - Mempresentasikan Yesus sebagai Allah dalam daging manusia, sang Kristus, sehingga anda menjadi percaya.


Kitab Sejarah:
1.      Kisah Para Rasul - Catatan sejarah dari kenaikan Yesus hingga perjalanan - perjalanan misi Paulus.
Surat-surat Paulus
  1. Roma - Penelaahan yang sistematis atas pembenaran, pengudusan, dan pemuliaan. Menelaah rencana Allah atas orang Yahudi maupun non Yahudi.
  2. 1 Korintus - Surat ini menyoroti perpecahan dalam jemaat dan teguran atas pelanggaran susila, masalah mencari keadilan kepada orang-orang yang tidak beriman, dan kebiasaan-kebiasaan yang salah dalam Perjamuan Kudus. Juga menyinggung tentang penyembahan berhala, pernikahan, dan kebangkitan.
  3. 2 Korintus - Pembelaan Paulus atas kerasulannya.
  4. Galatia - Paulus membuktikan kesalahan dari legalisme (menganggap Hukum Taurat sebagai mutlak dalam memperoleh keselamatan) dan menelaah mengenai tempat yang layak bagi anugrah di dalam kehidupan orang-orang Kristen.
  5. Efesus - Posisi orang percaya di dalam Kristus dan informasi mengenai peperangan rohani.
  6. Filipi - Paulus membicarakan tentang pemenjaraannya, kasihnya kepada jemaat di Filipi. Ia mendesak mereka ke arah kesalehan dan memperingatkan mereka akan bahaya legalisme.
  7. Kolose - Paulus memfokuskan pada keutamaan Yesus dalam penciptaan, penebusan, dan kekudusanNya.
  8. 1 Tesalonika - Pelayanan Paulus kepada jemaat Tesalonika. Pengajaran mengenai kesucian dan menyinggung tentang kembalinya Kristus untuk yang kedua kalinya.
  9. 2 Tesalonika - Koreksi-koreksi atas pendapat yang salah mengenai Hari Tuhan.
  10. 1 Timotius - Instruksi-instruksi kepada Timotius mengenai kepemimpinan yang benar dan cara-cara menghadapi ajaran sesat, peranan wanita, doa, dan syarat-syarat bagi penilik jemaat dan diaken.
  11. 2 Timotius - Sepucuk surat untuk menguatkan Timotius.
  12. Titus - Paulus meninggalkan Titus di Kreta guna menggembalakan gereja-gereja di sana. Syarat-syarat menjadi penatua, penilik jemaat.
  13. Filemon - Supucuk surat kepada seorang tuan mengenai budaknya yang melarikan diri. Permohonan Paulus kepada Filemon supaya mengampuni Onesimus.
Surat-surat non Paulus.
  1. Ibrani - Supucuk surat kepada jemaat Kristen Yahudi yang sedang terancam bahaya kembali memeluk Yudaisme. Surat ini menunjukkan superioritas Kristus dibandingkan dengan sistem Perjanjian Lama. Menyinggung juga tentang keimaman Melkisedek. (Surat ini mungkin berasal dari Paulus. Banyak didebatkan mengenai siapa sesungguhya pengarang surat ini).
  2. Yakobus - Sebuah desakan praktis untuk menjalani kehidupan Kristiani yang mencerminkan kehidupan yang telah lahir baru. Surat ini menekankan pemeriksaan atas diri sendiri terhadap bukti-bukti dari hidup yang telah diubahkan.
  3. 1 Petrus - Petrus menuliskan surat ini untuk menguatkan penerima suratnya dalam penderitaan mereka dan agar mereka tetap rendah hati. Menyinggung juga masalah baptisan.
  4. 2 Petrus - Membicarakan mengenai batin tiap pribadi, peringatan mengenai ajaran palsu, dan menyinggung mengenai Hari Tuhan.
  5. 1 Yohanes - Yohanes mendeskripsikan persekutuan yang sejati dari orang-orang percaya dengan sesama orang percaya dan dengan Allah. Melukiskan Allah sebagai Terang dan Kasih. Mendorong agar orang-orang Kristen berjalan di dalam Allah. Banyak menyinggung mengenai kasih Kristiani.
  6. 2 Yohanes - Puji-pujian untuk mereka yang berjalan di dalam Kristus dan sebuah peringatan untuk tetap berjalan di dalam kasih Allah.
  7. 3 Yohanes - Yohanes berterimakasih kepada Gayus atas kebaikannya terhadap jemaat Allah dan menegur Diotrefes.
  8. Yudas - Mengekspos guru-guru palsu dan menggunakan ibarat-ibarat dalam Perjanjian Lama dalam melukiskan penghakiman atas mereka. Nasihat-nasihat untuk meneguhkan iman.
Kitab Nubuat:
            1.Wahyu - Penglihatan yang penuh dengan simbol/ perlambangan mengenai pemberontakan, penghakiman, dan akhir dari segala sesuatu.
            Ada pula sejumlah Kitab Injil, semacam Injil Gulungan Laut Mati (Dead Sea Scrolls), misalnya Injil Yudas Iskariot maupun Injil Barnabas. Tetapi tidak diakui dan dimasukkan ke dalam Perjanjian Baru, karena isinya tidak sesuai dengan keyakinan Injil-Injil sebelumnya. Misalnya dalam Injil Yudas Iskariot dikisahkan Yesus Kristus menyuruh Yudas untuk mengkhianatinya dan memuat ajaran-ajaran non-Kristen yang baru muncul pada abad ke-2 M, sedang Injil Barnabas yang ada sekarang, ternyata terbukti ditulis pada abad ke-15, memuat kabar datangnya Mesias Baru setelah Yesus Kristus wafat.
            Perjanjian Lama menceritakan Kisah para tokoh dan nabi jauh sebelum Yesus Kristus lahir, dari Adam sampai Maleakhi. Sedangkan Perjanjian Baru memuat Kitab-kitab Injil (4 kitab yang berbeda) berisi sejarah riwayat Yesus Kristus dari sebelum lahirnya sampai matinya, serta surat-surat yang ditulis oleh pengikut-pengikut-Nya. Untuk memudahkan pencarian lokasi pernyataan di dalam Alkitab, masing-masing kitab atau buku dibagi atas pasal-pasal. Kitab-kitab yang paling pendek terdiri dari 1 pasal saja, yaitu ada lima: Kitab Obaja, Surat Filemon, Surat 2 Yohanes, Surat 3 Yohanes, dan Surat Yudas; sedangkan yang paling panjang 150 pasal: Kitab Mazmur.
Masing-masing pasal dibagi menjadi sejumlah ayat. Yang paling sedikit 2 ayat: Mazmur 117; dan yang paling banyak 176 ayat: Mazmur 119.
            "Alamat Alkitab" adalah cara yang digunakan untuk memudahkan pencarian lokasi ayat di dalam Alkitab. Kejadian 1:1, misalnya, menunjuk pada kitab Kejadian, yaitu kitab pertama dalam Alkitab, pasal pertama, ayat pertama.
            Kitab-kitab di Alkitab disusun secara semi-kronologis, bukan dari waktu turunnya Wahyu. Digolongkan "Semi-kronologis" karena beberapa kitab tidak diketahui jelas waktu penulisannya dan siapa sesungguhnya penulisnya, sedangkan beberapa kitab lainnya merupakan kumpulan tulisan yang dikelompokkan menurut gaya penulisannya. Kitab Amsal yang ditulis oleh raja Salomo, misalnya, tidak ditempatkan setelah kitab 1 Raja-raja yang membahas riwayat hidup Salomo, namun dikelompokkan bersama-sama dengan kitab-kitab puisi lainnya (Kitab Ayub, Mazmur, Pengkhotbah, Kidung Agung). Kitab nabi Yeremia yang hidup pada zaman raja Yosia, contoh lainnya, tidak ditempatkan setelah kitab 2 Raja-raja yang membahas riwayat raja Yosia, namun bersama-sama dengan kitab-kitab nabi nabi besar lainnya (Kitab Yesaya, Yeremia, Ratapan, Yehezkiel, dan Daniel). Kitab-kitab lainnya, terutama kitab-kitab sejarah, disusun secara kronologis dan urutannya memengaruhi cara pembacaan agar tidak membingungkan. Kitab Keluaran, misalnya, lebih mudah dibaca setelah membaca kitab Kejadian karena pembaca akan lebih mengerti latar belakangnya. Demikian juga kitab Kisah Para Rasul lebih cocok dibaca setelah membaca keempat kitab Injil, karena kitab-kitab Injil itu merupakan latar belakang penulisan Kisah Para Rasul. Namun beberapa kitab, seperti Kitab Amsal dan Kitab Pengkhotbah, dapat dibaca secara lepas, walaupun pembaca akan lebih memahaminya jika mengetahui riwayat penulisnya, Salomo, yang dibahas di kitab-kitab sebelumnya (1 & 2 Raja-raja dan 1 & 2 Tawarikh).
            Pembagian Alkitab ke dalam buku, pasal, dan ayat, dan pengurutannya merupakan hasil dari kanonisasi oleh Bapa Gereja mula-mula. Struktur tersebut sudah tidak berubah selama berabad-abad sejak abad ke-4 M, namun beberapa terjemahan Alkitab kadang-kadang memiliki konvensi yang sedikit berbeda, misalnya dalam kitab Mazmur Alkitab bahasa Indonesia, nama penggubah Mazmur dan judul lagu dijadikan ayat yang pertama dalam suatu pasal, sedangkan dalam bahasa Inggris tidak. Oleh karena itu Alkitab bahasa Indonesia memiliki beberapa puluh ayat lebih banyak dari bahasa Inggris. Selain itu setiap terjemahan Alkitab memiliki bagian sub-pasal yang disebut dengan perikop, yaitu yang membahas suatu topik tertentu. Pembagian-pembagian ini bukan merupakan bagian isi Alkitab yang sebenarnya, melainkan hanya sebagai alat bantu untuk memudahkan pembacaan atau pencarian kembali suatu pembacaan bagian tertentu.
            Selain itu semenjak dahulu ada diskusi tentang kanon Alkitab: buku apa saja yang bisa dianggap bagian dari Alkitab. Pada abad ke-3 SM, Alkitab Ibrani atau Tanakh diterjemahkan dalam bahasa Yunani. Terjemahan ini disebut Septuaginta, tetapi memuat sejumlah buku yang tidak terdapat dalam versi Yahudi. Buku-buku ini disebut buku-buku Deuterokanonika.
HUBUNGAN PERJANJIAN LAMA DENGAN PERJANJIAN BARU
            Hubungan Perjanjian Lama Dan Perjanjian Baru

            Titik tolak dalam memahami masalah teologis mengenai hubungan kedua perjanjian dalam satu kitab terletak dalam alkitab itu sendiri. Perjanjian Lama sangat menekankan pengharapan akan masa depan, akan datangnya seorang penebus dan pembebas bagi Bangsa Israel. Hal tersebut terlihat sangat jelas melalui tulisan-tulisan tertua, eskatologi para nabi dan disusul tulisan-tulisan terkemudian.
            Dalam Perjanjian Baru, berkesinambungan dengan tujuan atau pandangan Perjanjian Lama, yakni bahwa Perjanjian Baru mengutamakan penggenapan janji dan pengharapan-pengharapan yang terdapat dalam Perjanjian Lama.
Pada satu sisi, kedua Perjanjian itu memiliki beberapa sudut pandang dan pola yang sama, bahwa keduanya berbicara hal yang sama mengenai masalah-masalah pokok, khususnya dalam hal hubungan Allah dan manusia, manusia dengan sesamanya, dan lain sebagainya. Dan juga kedua perjanjian tersebut pada hakikatnya berkesinambungan dalam sejarah dan bersatu dalam teologinya. Akan tetapi, ternyata keduanya pun memiliki perbedaan, antara lain ialah banyaknya pemahaman dan praktek dalam Perjanjian Lama yang tergantikan oleh Perjanjian Baru, bahwa ciri khas Perjanjian Lama bersifat persiapan, sedangkan dalam Perjanjian Baru bersifat penggenapan, serta kehidupan masyarakat dalam Perjanjian Baru memiliki hubungan yang lebih pribadi dengan Allah, jauh melebihi masyarakat dalam Perjanjian Lama.
            Menurut H. H. Rowley, kesatuan dan kesinambungan yang hakiki antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru ditemukan dalam asalnya yang sama dari Allah, pengajaran yang sama mengenai Allah dan manusia, pola-pola yang sama dan prinsip-prinsip etika serta liturgy yang sama (Baker. 1996: 265). Pandangan lain yang menjelaskan mengenai hubungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru datang dari Th. C. Vriezen, yang berpendapat bahwa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memiliki beberapa perspektif yang sama, di antaranya adalah konsep persekutuan, nubuat, dan kerajaan. Menurut Vriezen kepastian persekutuan yang langsung antara Allah dan manusia merupakan ide dasar dari seluruh kesaksian Alkitab, sehingga antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mempunyai hubungan satu dengan yang lain.
            Secara historis-teologis, menurut Hasel (Baker, 1996: 289-295) terdapat hubungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yaitu sebagai berikut:
1.Hubungan tersebut dapat dilihat dalam sejarah umat Allah dan cara Allah berurusan dengan manusia.
2.Terdapat kutipan dalam Perjanjian Baru yang diambil dari Perjanjian Lama
3.Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sama-sama menggunakan tema-tema teologis yang penting seperti pemerintahan Allah, umat Allah, pengalaman keluar dari perbudakan, perjanjian, Kerajaan Allah, ciptaan dan ciptaan baru serta masih banyak lagi.
4.Secara terbatas tipologi menguatkan bahwa terdapatnya hubungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
5.Adanya kategori janji dan penggenapan yang terdapat dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, hal ini memperlihatkan bahwa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tak terpisahkan.
            Selanjutnya hubungan antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian baru, menurut Bright (1967: 136-138), Alkitab merupakan buku teologi, sehingga kesatuan Alkitab tergantung pada adanya kesatuan dalam teologi Alkitab. Perjanjian Lama, menurut Bright merupakan kitab yang mencatatkan sejarah nyata, dalam hubungan dengan suatu penafsiran teologis mengenai sejarah itu. Sejarah tersebut dimengerti sebagai suatu sejarah yang menuju suatu tujuan namun tidak sampai kepada tujuan tersebut. Jadi secara teologis Perjanjian Lama tidak lengkap, karena melukiskan suatu sejarah keselamatan yang di dalamnya keselamatan tersebut belum tercapai. Penggenapan dan penyempurnaan akan keselamatan tersebut hanya terdapat di luar batas-batas Perjanjian Lama, yakni pada Perjanjian Baru. Pada Perjanjian Baru tersebut, yang menjadi berita utamanya adalah Yesus Kristus telah datang, Allah telah bertindak secara nyata dalam menentukan sejarah manusia pada penggenapan janji-janjinya dan mencapai keselamatan. Melihat penjelasan di atas, dengan model struktur teologi yang melengkung, mempengaruhi masing-masing teks dengan menggunakan cara-cara tertentu, itu merupakan unsur yang hakiki dan normativ dalam Perjanjian Lama. Struktur tersebut merupakan suatu unsur yang mengikatnya tanpa terbukakan dengan Perjanjian Baru dalam Kanon Kitab Suci.
Oleh karena itu, jelaslah bahwa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak hanya terdapat suatu kesinambungan atau hubungan secara historis saja melainkan juga memiliki suatu hubungan kesatuan historis.

KESIMPULAN
            Hubungan kesatuan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru terdapat suatu kesatuan namun tetap memberi ruang keragaman bagi kedua kitab tersebut. Dilihat secara histories, Agama Kristen berakar kepada agama Yahudi, maka Kekristenan tersebut tidak dapat menghilangkan ke Yahudiannya. Namun demikian, agama Kristen tetaplah bukan kelanjutan dari agama Yahudi, karena keduanya merupakan agama yang berbeda. Secara teologis, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru di dalamnya sama-sama membahas tema-tema penting. Tidak heran apabila hampir setiap kata kunci dalam Perjanjian Baru berasal dari bahasa Ibrani, yang pemakaian dan perkembangannya yang panjang di dalam Perjanjian Lama dapat ditelusuri. Namun demikian, berkat kedatangan Kristus dari surga telah menyempurnakannya, tema-tema teologis ini dalam Perjanjian Baru telah mengalami penafsiran ulang yang radikal.